Minggu, 02 Oktober 2011

Dongeng ini sangat khas dengan cara bertutur Pram dalam tulisan-tulisannya. Simpel dan enteng untuk dibaca. Dari beberapa buku-buku Pram, mungkin Cerita Calon Arang adalah satu di antara yang paling tipis dengan jumlah bahasan 92 halaman dan terdiri dari dua belas bagian. Atau mungkin inilah buku yang paling simpel yang ditulis Pram?

Dongeng yang diangkat dari cerita rakyat Jawa Timur ini berkisah tentang seorang janda kampung. Janda yang gemar melakukan praktek ilmu teluh. Ia senang menganiaya, merampas dan menyakiti. Seperti dalam tulisan-tulisannya yang lain, Pram menuliskan Cerita Calon Arang dengan runut dalam alur maju.

Dalam cerita itu, konon pada jaman dahulu kala, ada sebuah negeri termashur di Jawa timur yang dulunya bernama Daha, dan sekarang menjadi Kediri. Kemashuran negeri itu telah tersebar kemana-mana.
Dalam cerita ini, melalui tangan Pram digambarkan negeri yang damai, rakyatnya sejahtera, tak ada kasus busung lapar, tak ada rusuh pembagian zakat.

Semua warga hidup dalam ketentraman. Namun di sebuah desa di luar kota yang diperintah oleh Raja Erlangga itu, terdapat seorang perempuan tukang sihir. Calon Arang namanya. Hidup bersama seorang putrinya yang cantik namun tak bersahabat.

Tak satu pun warga yang berani menegur sang gadis jika berpapasan. Sebab jika tersinggung, maka sang gadis akan melaporkan itu kepada ibunya yang tukang sihir itu. Maka dalam waktu yang tak terlalu lama, orang itu akan mati akibat mendapat teluhan dari Calon Arang.


Dalam cerita ini, Pram menggambarkan praktek ilmu teluh secara fulgar. “Kalau mereka sedang berpesta tak ubahnya dengan sekawanan binatang buas, takut orang melihatnya, yang jika ketahuan mengintip orang itu akan diseret ke tengah pesta dan dibunuh, dan darahnya akan digunakan untuk berkeramas oleh para pengikut Calon Arang”.

Nyaris seisi negeri dikuasai Calon Arang ketika ia melakukan praktek peneluhan secara besar-besaran. Wabah penyakit menyerang seisi negeri, dan membunuh warga secara masal. Raja pun kewalahan menanganinya, mantra harus dilawan dengan mantra. Maka diutuslah orang dalam istana untuk menemui Empu Baradah di subuah dusun di kaki gunung. Hanya sang empuhlah yang bisa mengalahkan kesaktian Calon Arang. Raja memercayai itu.

Dalam operasi yang sangat cerdik, akhirnya Empu Baradah berhasil menumpas Calon Arang, dengan mempelajari kitab bertuah milik Calon Arang. Dan seisi negeri pun bisa kembali seperti sedia kala. Sang Raja pun berkeinginan untuk menjadi pendeta dan melakukan pertapaan mengikuti jejak Empuh Baradah. Tak ada kejahatan, kepongahan, yang abadi. Melainkan kebaikan (ilmu) yang terus bertahan hingga akhir zaman.

Inilah gaya dongeng. Layak dibaca atau diceritakan kepada anak-anak kita saat mereka tidur di malam hari. Dongeng ini pertama kali naik cetak pada 1954 oleh NV Nusantara. Cetakan keduanya adalah edisi Bulgaria. Kemudian pada tahun 1999 dicetak kembali dalam edisi Indonesia, dan pada 2002 dicetak dalam edisi Singapore oleh Equinox.

Setahun setelah cetakan edisi Singapore, edisi Spanyol kemudian menyusul dicetak oleh Editorial Cruilla. Sementara buku yang saya baca ini adalah cetakan tahun 2006 oleh Lentera Dipantara, dengan ukuran 13×20 cm dan ketebalan 94 halaman ditambah kata pengantar, termasuk cetakan kedua, setelah cetak pertama dengan hak cipta Pram pada tahun 2003.

Berbeda dengan buku-buku yang lain yang ditulis Pram, buku ini simple dan seakan-akan Pram menulisnya hanya menambahkan bumbuh-bumbuh sastra seadanya, tanpa melibatkan unsur subjektifitas. Hampir tak ada yang dilebih-lebihkan kecuali khayal kita yang akan terbang ke suasana desa yang dulu, jauh ke belakang di zaman kerajaan. Jika anda mempunyai waktu luang barang sedikit, tak sampai pada menit ke 120 anda akan hatam dengan dngeng ini.

Menurut Pram dalam pengantarnya, cerita tersebut dikarang pada tahun Caka 1462. Tulisan lamanya ada dua macam, yaitu berasal dari Jawa dan diterjamahkan ke Bahasa Belanda oleh R.Ng.Prbatjaraka dalam Bijdr. Kemudian dimacapatkan (dilagukan) oleh Raden Wiradat dan diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1931. Sesungguhnya, crita ini ada dua versi, yakni versi Jawa dan Bali. Memang kedua nama ini: Erlangga dan Bharada adalah dua nama yang paling berpengaruh dalam sejarah Hindu Jawa.
Penasaran? Bacalah kan..!

LARASATI

TIBA-TIBA AKU MENJADI KAKU. Bagaimana dan darimana harus memulainya. Semua mengaduk dalam sadar. Bukan karena tidak dalam keadaan mood, tapi perhatian ini nyaris beterbangan ke masa lalu, yang tak pernah saya temukan, karena memang itu telah lalu. Telah lampau.  Dan kelampauan itulah yang membuat roman ‘Larasati’ yang ditulis Pramoedya Ananta Toer ini menjadikan saya terhuyung-huyung membayangkan masa revolusi. Masa ketika semangat pemuda telah dibuktikan.

Dari sudut pandang Larasati sebagai tokoh kunci dalam roman ini, dimulailah cerita dengan alur maju yang sesekali menghentak. Bermula perjalanannya dari daerah pedalaman (Yogyakarta) menuju daerah pendudukan (Jakarta) menggunakan kereta, berdesak-desakan merasakan hawa revolusi yang dibakar semangat pemuda yang ia lewati di perjalanan.

Larasati adalah seorang artis, bintang film yang akrab dimata masyarakat ketika itu. Kemolekkan tubuhnyalah membuat ia dipuja-puji di panggung, bermain peran, bermain dalam film-film propaganda Belanda. Hingga berkenalan dengan petinggi negara. Ia juga akrab dengan pria hidung belang. Tapi ia adalah revolusi.

Ia saksikan orang-orang dengan senjata berseragam kusam dan gondrong, jarang bersampo, dengan semangat revolusi berapi-api, dari balik jendela kereta. Mereka bersorak ketika melihat Larasati “Ara, Ara, sukses…selamat,” dan Larasati hanya tersenyum. Namanya lebih akrab dipanggil Ara.

Beberapa kesempatan dalam kereta ia lewati dalam buruk sangka. Ia lebih menduga-duga daripada berpikir positif kepada lelaki-lelaki dalam perjalanan itu. Hingga ia pun sadar kalau semua lelaki itu adalah pejuang revolusi. Rasa penyesalan hadir ketika para lelaki itu turun dari kereta, dan Ara baru mengetahui itu semua, tanpa sempat berkenalan dan meminta maaf.

Setibanya di Cikampek, Ara memulai perjuangannya. Sempat ia menyaksikan kepiluan yang dialami para pemuda (orang republikan) dalam penjara. Disiksa hingga tewas. Dengan watak kerasnya dan tak kenal kompromi, Ara berusaha dan berdoa agar lolos dari Cikampek dengan bantuan Martabat, sopir kolonel Surjo Sentono.

Cerita pun berjalan lebih dinamis ketika Ara lolos dari rayuan Mardjohan, seorang penyiar dari Jakarta yang menghianat bergabung dengan Nica (Nederlandsch Indiƫ Civil Administratie), Pemerintahan Sipil Hindia Belanda. Bersama Martabat, pemuda yang diam-diam juga adalah orang republikan itu, Ara menemui ibunya di kampung di Jakarta.

Pram kembali menggambarkan semangat revolusi dari para pemuda di kampung Larasati itu. Kampung yang setiap malam-malamnya diramaikan dentuman granat dan rentetan tembakan senjata mesin oleh tentara Nica. Disinilah Ara menemukan semangat jaung yang lebih nyata dari orang-orang muda. Ia pun terlibat dalam peristiwa heroik di sebuah malam, untuk membuktikan kepada para pemuda kalau ia dan Tabat juga bagian dari revolusi itu.

“Kalau mati, dengan berani; kalau hidup dengan berani. Kalau berani tidak ada, itulah sebabnya bangsa asing bisa jajah kita” kata komandan pemuda desa saat bersama Ara dalam malam terakhirnya.
Kebebasan Ara pun tertawan karena ulahnya sendiri. Ia tak menghiraukan permintaan ibunya agar pergi jauh dari kampung naas itu. Ia pun disekap Jusman, pemuda arab yang juga mata-mata Nica, setelah bertemu seorang penyair dari Yogya, Chaidir, dalam keadaan perut kosong dan tubuh yang lemas.

Nyaris ia menyerah pada keadaan ditawan tanpa status, bukan isteri bukan kekasih. Ia hanya memantau perjalanaan revolusi melalui radio dan koran. Kematian Chaidir yang ia baca di Koran bersamaan dengan dikuasainya Yogya oleh Nica. Ia menyerah dalam hati, mengatakan itu semua pada ibunya.

Seiring berjalannya waktu, ia pun lepas dari tawanan Jusman dengan pengorbanan ‘berdarah-darah’. Dan revolusi menemui kemenangan. Ara pun kembali bertemu mantan kekasinya, Oding. Ia tinggalkan gubuk reot di desa, pindah bersama ibunya serumah dengan Oding di gedung bekas bangunan Belanda dalam suasana kemerdekaan.

Itulah Larasati dengan caranya sendiri dalam perjuangan. Dalam revolusi pasca proklamasi. Cerita ini pertama kali dipublis, naskahnya dalam bentuk cerita bersambung di surat kabar Bintang Timur kolom budaya, mulai 2 April 1960 hingga 17 Mei 1960.

Dan setelah itu dibukukan mulai tahun 2000 oleh Hasta Mitra dan disusul cetakan berikutnya oleh Lentera Dipantara hingga edisi ke lima, dengan tebal 180 halaman dan ukuran 13X20 cm. Saya menyarankan anda untuk membacanya, biar keciprat perasaan dan semangat juang masa lalu. Masa Revolusi.

SOE HOK-GIE.......Sekali Lagi

Ini adalah buku non fiksi dengan berbagai sudut pandang penulisnya, tentang sosok pemuda idealis yang hidup pada akhir rezim orde lama. Dengan kegigihan dan keteguhan jiwanya, idealisme yang ia miliki mengantarkan dirinya terjun bersama para mahasiswa lain menjadi demonstran pada tahun-tahun 1960an.
Ia adalah Soe Hok Gie, pemuda keturunan Tionghoa yang oleh kawan-kawannya ketika itu sering disebut ‘China kecil’. Kumpulan cerita ini diawali dengan detik-detik terakhir kehidupan Soe Hok-Gie. Ia menemukan akhir hidupnya di dataran tertinggi pulau Jawa, yakni di Puncak Mahameru gunung Semeru Jawa Timur pada 16 Desember 1969. Dimana ketika itu ia akan memasuki usianya yang ke 27, ia bertemu maut pada saat-saat sehari menjelang hari jadinya. Kesetiaan dalam pertemanan sebagai sesama pendaki, juga akan diulas tuntas oleh Rudy Badil, kawan Gie yang menjadi saksi dalam tragedi Semeru itu.
Buku berukuran 17,5 X 22 sentimeter ini dikemas elegan dengan bahasa populer dalam tutur-tutur kawan-kawan seangkatan Gie ini, mengulas kisah-kisah penting sang pejuang, waratwan lepas, kolumnis yang juga seorang dosen di Universitas Indonesia.
Sungguh sebuah pengabdian tulus terhadap bangsa, yang luput dari rekaman rentetan catatan-catatan sejarah. Orang bijak pernah berkata bahwa “Sejarah hanyalah milik orang-orang yang menang”. Dan saat itu sebenarnya, kehidupan Gie bukan diperhadapkan pada posisi menang atau kalah. Tapi pada posisi perjuangan membangkitkan semangat pemuda (mahasiswa) menyikapi berbagai fenomena sosial politik, budaya dan ekonomi sebelum dan sesudah bubarnya PKI, dan berakhirnya kekuasaan Soekarno.
Dalam ketebalan 512 halaman, buku ini akan menghantarkan pembacanya pada situasi pertarungan rasa, melalui penggambaran situasi yang terjadi saat Gie aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan. Semua disajikan langsung dari kedalaman rasa para pelaku sejarah pergerakan mahasiswa Universitas Indonesia, yang tak lain adalah kawan-kawan dekat Gie.
Di halaman-halaman hampir separuh buku ini, anda akan menemukan catatan seorang sahabat yang juga wanita pengagum Gie. Ia adalah Kartini Sjahrir (Ker) yang mengulas kekaguman dan rasa cintanya terhadap Gie dalam sepuluh surat yang ditulis sejak 1968. Bagaimana Gie di mata perempuan (mahasiswa) kala itu, catatan Ker bisa menjadi representasinya.
Ada sedikitnya 25 orang yang juga berkontribusi memberikan catatan-catatan mereka tentang Gie, termasuk Rudy Badil, Luki Sutrisno Bekti dan Nessi Luntungan R, yang menjadi penulis inti dalam buku ini. Dengan gaya deskriptif seperti dalam penulisan feature catatan perjalanan dan catatan dalam buku diary, buku ini akan menghantarkan kita pada sebuah perenungan, bagaimana seseorang bisa menjadi sebegitu idealisnya dengan kesederhanaan yang dimiliki keluarganya, dan itulah yang menghantarkannya pada ketenaran sebagai seorang penulis lepas di koran-koran nasional. Hobinya dalam berdiskusi, membaca, menonton film dan mendengarkan lagu-lagu kerakyatan, membuat Gie semakin kaya dengan pengetahuan tentang dunia luar.
Sesungguhnya, buku ini dibuat sebagai bentuk penghargaan kepada Gie dan kepada kita semua yang masih teguh pada perjuangan melawan tirani yang saat ini samar namun ada. Bergentayangan di balik tirai-tirai rumah para penguasa dalam gaya yang berbeda dengan orde baru maupun orde lama. Bagi Rudy Badil dan kawan-kawan, buku ini sebagai persembahan untuk merayakan 40 tahun tragedi Semeru (1969-2009), dimana Gie dan Idhan Dhanvantari Lubis menutup lembaran-lembaran perjalanan keduniawiannya.
Buku ini penting untuk dibaca sebab banyak hal yang belum sempat diulas pada film Gie yang diagrap oleh Riri Riza. Riri, Nicholas Saputra, dan Mira Lesmana juga turut ambil bagian dalam buku ini. Menyumbangkan catatan mereka untuk memperkaya buku ini dengan prespektif orang yang hidup di masa 1990-2000an.
Bagi saya, ini adalah buku wajib bagi para mahasiswa semester satu yang mau belajar menjadi seorang mahasiswa (aktivis). Bukan untuk diikuti sepenuhnya, tapi hanya sebagai bahan untuk membaca situasi di masing-masing kampusnya. Gie hidup di masa 1960an, anda hidup di masa 2000an, maka berlakulah selayaknya anda sekarang sebagai mahasiswa.